Thursday, September 27, 2007
"
Teruntuk Babeh
"

Untuk Bapak di Rumah.

Bapak, Babeh, Ayah, Daddy, Happy B'Day ya....

Wah sebentar lagi 60 tahun. Emang sih, masih 3 tahun lagi ;)

Ketika menulis surat ini, gadis kecilmu ini sedang membayangkan lagi apa Bapak di rumah. apa Bapak lagi berkolong di bawah mobil berkalang debu dengan badan dan wajah tercoreng-moreng oli?  apa Bapak mungkin juga sedang bercuap-cuap di depan mike sambil berceloteh : "break 123, apakah bisa diterima? over," atau jangan-jangan Bapak sedang asik di dapur mencincang, menumbuk, menggoreng, sreng...sreng masakan spesial keluarga kita. Ya, kan Bapak?

Sudah dua tahun ini Bapak melalui masa pensiun. Ehm, menjemukan ya? melelahkan, ya, tanpa melakukan kegiatan keluar rumah setiap hari lagi?  bangun pagi, membaca koran, sarapan dan segala aktivitas dilakukan tanpa ketiga anakmu yang serba bandel ituh. Tapi kan Babeh bisa tambah mesraaa sama Ibu....uhuuyy....udah ga ada yang ganggu en ngerecokin lagi-kann?

Sudahlah, Pak. Jangan terlalu memikirkan anak-anakmu yang sedang merantau di kota lain. Kami semua aman. Just pray for us, Dad.

Jangan terlalu mengkhawatirkan Yuda. Dia sudah besar, Beh. Dunia mahasiswa lambat laun bisa membuatnya tumbuh dewasa. Yuda mulai membuktikan itu. Dia tak lagi sebagai anak kecil yang dulu setiap sore selalu membawa boneka panda cokelat-nya berjalan-jalan disepanjang jembatan merah di kompleks. He's still our Yuda and he knows better than us what he wants to be. Just give him support and courage his dream. Mimpinya menjadi pemusik dan mungkin juga ahli hukum yang vote to the poor, bisa menjadi kenyataan.

Kalau Babeh mau bertanam bunga, boleh saja.  Kalau Bapak senang mengatur tanaman pot supaya rapi berjajar di kebun kecil kita, bagus banget. Nanti ketika Aku pulang kampong, Aku ingin melihat taman kecil kita tertata apik dengan rerimbunan bebungaan. Maklumlah, Beh, putri semata wayang-mu ini termasuk tipe gadis pemalas. Kurang apik merawat tanaman, he.he.he.hehe.

Kalau Bapak mau mengeluarkan uang untuk membeli segala jenis tanaman, boleh saja. Ssst, tapi sisakan sedikit keping untuk peri kecil-mu ini ya, behh..Nanti kita belanja-belanji sepatu sandal, baju, makan-makan, en so on, en so on...ugh, tapi jangan sampai ketahuan Ibu. bisa marah enyak kita ituh.


Beh, mbok dikurangi merokoknya. Inget rokok, biasanya Riri pasti ingat Babeh. Babeh kan kalau merokok kayak kepulan asap kereta...wush..wush..wush..tiga bungkus sehari dijabanin deh.  Tapi Riri juga sedih waktu mendengar Bapak terbatuk, uhuk.uhuk..bathukk. Please, Stop smoking, Daddy !! Kami semua ga mau mendengar suara tenggorokan parau dan membaui asap rokok yang bisa bikin Bapak sakit.

Ingat kopi juga bikin Riri ingat Bapak. Setiap kita pergi ke luar kota, pasti Bapak meminta Riri membuatkan kopi untuk disimpan dalam tromel panjang. Kopi yang tidak terlalu manis itu adalah obat mujarab penghilang kantuk Bapak ketika sedang menyetir lebih dari empat jam.

Bapak, masihkan ingat dengan kenakalan dan pemberontakanku ketika usia belasan tahun? Mungkin Bapak akan balik bertanya, "yang mana,?" Riri tahu pasti, pertanyaan itu bukan karena Bapak lupa pada tingkah laku peri kecilmu ini. Justru Babeh bertanya untuk menarik suatu peristiwa penting yang sangat menggambarkan pemberontakan Riri dulu. Semuanya penuh pemberontakan, ya Beh ;) he.he.he. Jangan sedih gitu dong, Beh. Kelakuanku dulu hanya untuk menunjukkan jati diri seorang remaja ingusan seperti-ku, thoh?

Ingat, ga Beh, waktu kelas 4 SD, Riri nekat menyusup naik ke atas Bis yang menuju Bandung, tanpa membawa pakaian sehelai-pun? Waktu itu kita semua-kan sedang menghantarkan Tante Mar naik bis pulang ke Bandung. Saat masa liburan selama 1 bulan itu, Riri sangat jemu berada di rumah. Tapi Ibu selalu menggeleng kepala setiap Riri meminta berlibur ke Bandung.

Niat itu kesampaian. Berlibur sebulan yang tenang di rumah eyang yang penyabar. Tapi jangan dikira Riri juga ikut tenang sepenuhnya, lo Beh. Ketika berada di atas bis, dan menengokkan kepala ke jalan, Riri menyesal. Riri melihat Ibu yang sibuk mencari dimana Riri. Kalau ga salah ingat, Ibu juga sempat menarik pergelangan tangan Riri supaya ga ikutan masuk bersama Tante.

Lalu, saat perayaan perpisahan kelas 2 SMU, Riri juga nekat menginap bersama teman seisi kelas menginap di suatu Villa di Anyer. Waktu itu, Bapak dan Ibu sangat khawatir akan pergaulan bebas yang sempat jadi tema berita dimana-mana. YAY.. He..he. sudahlah, Beh. Thoh, aku selamat. Semua teman kelasku baik dan mau saling menjaga.

Segala kelakuanku diusia belasan tahun itu, mengesalkan ya?? Tapi, tetep ngangenin, kaaannnnn? *ihik*

Jangan terlalu banyak berpikir yang berat-berat, Beh. Nikmatin saja hidup dengan jalan-jalan pagi, bercocok tanam, dan memasak bersama Ibu.
Nyak kita ituh juga memerlukan dukungan sepulang dari kantornya. Jalanan yang semrawut, bisa membuat Nyak mengerucutkan wajahnya. Tuh, kan perut Babeh udah mulai membuncit. Ayo SEMANGAT jalan-jalan pagi berdua Ibu, Beh.

Jangan terlalu lelah juga, Beh. Simpan saja tenaga untuk persiapan menyetir belasan jam menuju Jogja pada lebaran nanti. Gadis kecilmu yang sekarang tak lagi kecil tubuhnya, akan duduk disampingmu dan berjaga dari kantuk. Tennnang, aku kan ikut memandumu menyusuri jalan menuju kota kelahiran-mu Beh, Yogyakarta.

Once more, your Dady's Girl wanna say:

Happy Birth Day
May all your wishes come true
You teach me all things to me, Dad.
Your integrity, dignity to success, and faithfulness is one of the reason for me to be a journalist.


27 September 2007

I..L.O.V.E...U..D.A.D

A Big hug for you

*kis..kis*


Posted at 06:43 am by All_Riri

Â

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Don't buy Vista Security
Previous Entry Home Next Entry