Friday, October 26, 2007
"
Surat Pembaca
"

Halo..halo Bapak Arimbi. Apa kabar? Semoga Bapak dalam keadaan sehat dan makmur selalu.

Perkenalkan nama saya Riri atau teman sepermainan sering memanggil saya dengan inisial RI2 (er -i- dua). Bagaimana angkutan armada Bapak selama bulan lebaran kemarin? Tentunya baik-baik saja..atau mungkin saja semakin berkembang, ya Pak.

Saya sudah kangen sekali dengan Bapak dan ingin bercerita banyaakkk deh. Pastinya Bapak ingin tahu cerita perjalanan saya ketika mudik lebaran kemarin, ya Pak? Seru banget. Mungkin pengalaman seperti itu akan saya patri lekat dalam ingatan.
Di pagi yang cerah, tanggal 11 Oktober, bagi saya itu adalah saat yang menggembirakan sekaligus melelahkan. Tentu saja melelahkan karena pada malam sebelumnya saya masih ditimbuni banyak TOR dan deadline laporan. Maklumlah, Pak, saya hanya seorang kuli bukan wirausaha seperti Bapak.

Saya, Wini dan Winda memutuskan naik taxi untuk melewati Slipi dan akhirnya sampai menuju ke seberang RS. Harapan KIta. Kami menyadari bahwa angkutan lebaran yang membludak membuat kami harus siap-siap berdiri selama 2 jam sampai Cilegon. Empet-empetan, desek-desekan, membaui keringat sesama pemudik..walhasil itulah yang ada dalam otak kami sebelum naik bus.

Singkat cerita, setelah menunggu selama kurang lebih dua jam dan harus menggotong satu tas besar berisi pakaian dan empat minyak goreng plus satu kantong kresek berisi bahan pangan bonus dari kantor, berbagai merek bis menghampiri. Dengan susah payah kami menggeretnya dari satu titik penantian bus ke pojokan yang lebih dekat dengan berhentinya bus yang semula melewati jalur tol dalam kota.



Penggiringan kami meleset. Semua bus penuh..nuh..nuh. Kami-pun berkejaran ke sisi kiri sambil tergopoh-gopoh sesekali menyeret "barang dagangan" kami ituh. Saya tak menyangka juga akhirnya ikut mengalami hiruk pikuk dan berdesak-desakan seperti yang tersorot dalam berita televisi.


Tuhan Maha Pemurah, ya Pak. Akhirnya kami bisa juga berkesempatan menjejakkan kaki ke dalam bus Arimbi. Kami berharap dapat segera berlabuh dan menghamburkan pelukan kangen pada Bapak-Ibu di kampong.

Terimakasih sudah menjadkan Arimbi sebagai armada yang membawa kami. Didalam bis saya berkenalan dengan seorang gadis, teman satu SMU-nya Wini di Serang, Lely namanya. Lely dan saya akhirnya ngobrol ngalor-ngidul dengan asyiknya. Kami merajut kembali kenangan lama masa SMU. Ternyata Lely banyak mengenal teman SD saya dulu.

"Gimana kabarnya si A? Hehehehe, iya tuh dia play boy kelas kambing banget waktu SD. Oh, iya dia itu emang punya pesona. Tapi menurut aku, dia cakep banget lhoo. Appa, menurutmu dia ngga cakep? Ehmm, iya juga sihh..tapi dia aktif Pramuka lo waktu SD dulu,"......Whatttts maksud elo????


Begitulah Pak, obrolan yang ga penting dan bener-bener hanya ingin membuang jenuh dan meluruhkan penat didalam Arimbi yang tumpek blek berisi orang bermuka masai dan kelelahan.

Obrolan kami yang ga mutu itu mampu membuang rasa sebal duduk persis di lantai yang berundak didepan pintu bus. Tepat sejajar dengan kepala saya, disitu duduklah seorang perempuan yang hampir tertimbuni dengan banyak barang oleh-oleh mudik 1428 H. Tubuh yang mungil itu semakin ciut saja terhimpit barang bawaan.

Jes..gejes..gejes...jesssssss. Para pemudik yang wajahnya pucat seperti kekurangan oksigen itu mendesah gelisah. Mereka panik. Arimbi tercinta kita mengambl langkah taktis menepi ke kiri.  Sopir dengan sigap turun hendak memeriksa ban. Penumpang Arimbi yang berjumlah dua kali lipat melebihi kapasitas tempat duduk semakin panik.




Udara pengap diam diam merambati tenggorokan dan hidung kami. Kepala mulai pusing. Saat itu saya membayangkan sebuah kampanye massa yang membutuhkan udara: "We want more...we want more. Air..air,"

Dalam hati....saya berharap tidak mati ditempat yang sangat tidak nyaman hanya gara-gara hal klise....kekurangan oksigen. Bagi kami adalah suatu hal yang konyol sekali bila kami meninggal sebelum bisa mencecap Idul Fitri hanya gara-gara pelayanan publik yang sangat tidak nyaman. Yahhh, seharusnya uang bus yang sudah terkena penambahan tuslah sebanyak Rp.4 Ribu tidak sia-sia. Secara menggenaskan kami terlantar ditepi jalan tol !!

Kernet bus yang kami tumpangi, otaknya ternyata masih jalan juga. Kemudian dibukanya-lah pintu bus. Saat itu jam 11.30. Udara yang panas langsung saling beradu kejar menyusup dalam hidung saya. Tampaknya hanya saya dan penumpang yang berada paling dekat dengan pintu saja yang bisa agak sedikit lega bisa melepaskan cekikan kekurangan udara. Penumpang lainnya yang semakin berjejal di dalam bis belum tentu merasakan itu. Jendela yang dibuka di kana-kiri tidak cukup menyuplai udara bagi puluhan lubang hidung yang sedang bernafsu menghirup dalam-dalam.


Sedangkan saya sendiri, sebetulnya bila tidak sedang diburu pulang ke kampong, mungkin saja senang dengan pemandangan sawah yang terbentang.

Panas, kesal, dan bete abis karena akhirnya harus terlunta ditengah jalan tol tanpa ada solusi taktis, memengaruhi mood saya. Ban bus pecah dan memerlukan peralatan tambahan. Malangnya, mereka tidak membawa peralatan lengkap. "Ya sudah, penumpang harap mencari bis Arimbi yang lewat,"begitu perintah sang kernet.




Saya dan beberapa teman memutuskan turun ke jalan....dan berharap bisa ngikut gratis armada Arimbi lainnya yang lewat. Setidaknya sampai Serang-lah. Asumsi saya, bila sudah sampai ke Serang...tidak pusing lagi bila ingin melanjutkan perjalanan ke Cilegon. Banyak sekali angkot dan bus pergi ke kota baja itu.



Walhasil..seperti perkiraan kami...akhirnya tidak mendapatkan satu-pun Arimbi yang bisa dijelali lagi penumpang tambahan. Semuanya overloaded. Kami berempat harus menggeret-geret
"barang dagangan" kami ke sana dan kemari. Hilir mudik kami setengah berlari mengacungkan tangan tanda memanggil...eeeh tak digubris karena mereka sudah tak punya kapasitas tampungan. Arimbi lainnya yang jalannya pelan dan terkesan enggan jalan karena terlalu penuh penumpang, menampik kami.

Tapi, akhirnya Si Pemilik Hidup memang selalu mengayomi umatnya yang beriman. hallah.
Tongue Jreng-jreng, sebuah bus jurusan Bandung-Merak dengan legowonya menerima kami. Lumayan banget hanya membayar Rp.10 ribu saya bisa menuntaskan perjalan sampai Cilegon. Tak ada penumpang berjejal, udara dari jendela yang dibuka dengan leluasa masuk. Lumayan juga bus ekonomi itu. Karena tidak berjejal manusia bertampang pemudik, maka bus dengan lincah bisa segera sampai Serang.

Tapi ada hal lucu lainnya. Biasanya bus yang saya naiki, setelah dari Serang  akan mampir ke Cilegon. Tappppi, ternyata bus tersebut langsung melesat ke arah Merak... wekkksss, jadi dari Merak saya harus kembali lewat jalan umum ke Cilegon? Heheheh, ya begitulah... tak apa. ngga jauh kok. Naik angkot hanya 20 menit.

Saya pesan ya, pada Bapak Arimbi...tulllllllllunnng dong diperbaiki... Mengenai penuhnya penumpang dikala lebaran, itu saya bisa pahami...tapi menelantarkan kami yang sudah membayar tuslah dijalan tol dan tidak sigap mencarikan bus cadangan???? Maaf, sampai pada titik itu saya belum dapat  menoleransinya.

Terimakasih.

Salam,
Si gadis pemudik JKT-Merak

~Rie~


Posted at 08:06 am by All_Riri

Â

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Don't buy Vista Security
Previous Entry Home Next Entry