Saya sudah melampaui waktu sekitar dua tahun. Selama itulah blog ini menjadi teman bercerita yang paling oke, tidak membantah, pendengar setia, dan juga sarana refleksi yang baik ketika saya membuka dan membaca kembali lembaran lalu. Blog ini adalah sahabat terbaik menampung segala cerita saya yang tak sempat saya ceritakan pada teman-teman di dunia nyata. Seringkali bercerita dengan "riris" memberikan ketenangan diakhir menulis.
Awalnya blog ini lahir karena rasa kagum saya dengan seorang wanita perkasa yang tulisannya di blog seringkali membuat terharu dan merasa simpatik dengannya. Dialah sang pelancong setiap jum'at jurusan Jakarta-Yogyakarta. PJKA' Girl adalah sebutannya untuk dirinya sendiri. Iya, PJKA...Pulang Jum'at Kembali Ahad. Setiap jum'at sore si tante itu rela tidur bergelarkan koran di kereta ekonomi jurusan Tanah Abang-Lempuyangan. Siapa dia? hehehehe, you know who you are, deh... Bayangkan! Hanya semalam saja, setiap minggu, dia berada di Jogja. Semua itu dilakukannya dengan ikhlas untuk menengok ayah tercinta.
Semua perjalannnya dituangkan dalam tulisan di blog yang desainnya persis mirip dengan desain Red Girl yang saya pakai sekarang. Dalam diskusi kami lewat dunia maya, dia mendukung saya untuk membiasakan diri menulis dan mempublish-nya. Blog-lah salah satu sarananya.
Saya senang dengan blog ini. Namun saya pikir akan lebih baik jika saya pindah rumah. Sudah terlalu banyak kenangan yang tanpa tedeng aling-aling saya tulis dan bisa diakses oleh siapapun. Saya juga perlu suatu penyegaran. enng, tapi blog baru itu nantinya tetep jadi blog narsis tanpa terlalu kekanakan.
Bukan berarti ketika saya pindah rumah merupakan penegasan kalau saya sudah lebih matang secara pemikiran dan tidak pantas berada di blogdrive ini lagi. Bukan..plis bukan itu. Saya hanya ingin tutup buku atas semua kenangan hitam, kelam, sedih, haru, gembira dan sumringah. Blog ini bisa diibaratkan sebuah rumah yang terlanjur menghadirkan semua kenangan itu. Sudahlah. Saya hanya ingin tutup buku. Suatu saat ketika saya kangen dan ingin sowan lagi diberanda "rumah terdahulu", saya pasti akan menyambanginya.
Namun, maaf karena rumah baru saya masih dalam tahap renovasi dan belum lama didiami, maka belum banyak cerita yang bisa dibagi. Tentunya, saya juga belum bisa memberikan alamatnya. Terimakasih sudah pernah menyambangi rumah ini. Torehan komentar apapun dalam blog ini, tetap membekas dalam ingatan saya.
Adios Amigos.
*_*
R: Mbak tahu ga resep tradisional yg bs nyembuhin Ambeien?
C: Wadduh, mending tanya Emsol aja.
-----------------------------------------------------------
R: Maaf ganggu tidur nyenyakmu, Cak. Btw, ngerti ramuan tradisional obat Ambeien, ra? Trims.
E: Kek..kek..kek.. peno keno ambeien ta? Mangkane ojo akeh2 mikul banyu :-) . Ubate tuku wae na apotek. Saiki akeh obat herbal kanggo ambeien, contone AMBEVEN.
R: Hush...aku ki serius, Cak. ono ramuan tradisional, ra? Aku ki Ambeien mergo kokehan mikul emas berlian. URGENT.
E: Ngombeo godogan daun wungu. Warna daune ungu. Nggoleke na penjual tanaman obat.
R: Nangendi Cak? Tahu tempat penjual sekitar Tanah Abang-Palmerah?
E: Nik iku ra ngerti.
-------------------------------------------------------------
B: Riri, gimana sudah sembuh?
R: Demam sdh sembuh. Tapi sekarang aku sakit Ambeien, Bli..
B: Oalah, penyakit kok macam-macam. Met istirahat ya.
-------------------------------------------------------------
R: Ibu, tolong lihatin di Senior, ada dibawah meja ruang tamu. Disitu ada artikel Bapak-bapak yang rebus daun tradisional untuk ambeien. Tolong ya, Bu. Sakit bgt.
I: Namanya daun Wungu, ambl 7 lbr dan Adas Pulowaras. Rebus dengan 3 gls air smp tersisa 1 Gls. Saring, sekali tiap pagi dg teratur. Hrs bnyk minum en makan sayur dan buah berserat. Ushkan 8 gls sehr.
Terimakasih sudah mengajarkan pada saya tentang hidup. Sedih rasanya ketika sakit tanpa ditemani oleh Ibu dan keluarga. Saat badan yang semakin rapuh ini harus berjalan tertatih hanya untuk membeli makan siang dan malam, keluar kos, ada rasa hampa. Saat itu, saya merasa sendiri, tidak ada yang perduli. Semuanya, termasuk pengobatan-pun harus diusahakan sendiri.
Kalau sudah begitu, agak menyesal juga memilih hidup kos. "Dulu waktu masih tinggal sama Eyang, pasti makanku terjamin,"batin saya sembari termangu. Diatas pembaringan saya hanya bisa terdiam sembari menahan rasa sakit. Demam tinggi dan pengecapan lidah yang pahit sangat menyiksa. Menatap tinggi langit-langit kamar kos, menarik selimut sampai batas dagu, tak dapat ditahan buliran air mata menetes. I'm alone...i'm alone, hiks..hiks. Bahkan untuk meng-SMS teman atau keluarga berat rasanya. Kasihan pikiran mereka harus terbebani bila mereka semua tahu kalau saya sedang menggigil kedinginan sementara udara sekitar saya panas terik.
Pasti Ibu dan Bapak akan cukup panik ketika putrinya yang keras kepala ini terkapar diatas pembaringan kapuk yang keras. Punggung sakitnya naujubilleh. Tapi tak dinyana, rasa sakit mampu membuat saya berrefleksi. Benar ngga ya inilah jalan hidup yang akan saya tekuni sepanjang hidup saya? Tepat-kah pilihan hidup yang sudah saya tentukan? Lagi-lagi ketika memikirkan itu, buliran air mata terus menggenangi pipi. I wanna go home.....Ibuuuuuuuu.
"Makanya kalau dikasih tahu orang tua, mbok ya nurut. Jangan pulang malam lagi,"ungkap Ibu sambil memijat punggung saya yang diborehi balsam. Ajaib, tidak sampai 15 menit dipijat, punggung yang sakit....howosh..howoshh..hilang !! Siapa dulu dong yang memijat
*I love u mom*
Model bebungaan dengan warna dasar cokelat, hmmm menambah hasrat ingin renang segera direalisasikan. Saya memang sempat menunda untuk waktu yang cukup lama untuk berenang. Lagi-lagi alasan klise: baju renang terlalu pendek. Yaaaiiiiyallllah...gimana ngga pendek dan kurang bahan banget, lha wong baju renang terdahulu saya beli saat belum lulus SD. Bayangpun!!! Aduuuuh plisssss...
Thanks to mbak Lina yang sudah membawa baju renang. Semua ibu-ibu di SWA langsung deh memburu baju renang yang modelnya cutttttttteeeeeeeee abisss. Ayo mbak-mbak, ibu-ibu...kita langsung agendakan saja renang bareng. Kolam renang Pasar Festival, menunggu kitaaa.
Betul juga ya, ungkapan itu. Kini saya benar-benar mengalami dan membuktikan hal itu. Hari demi hari membuat jerawat saya tumbuh subur terutama di sekitar pipi kanan. Mulanya sih saya cuek saja. Justru saya makin rajin membersihkan wajah dengan pembersih yang ternyata belakangan saya ketahui mengandung alkohol. Jerawat di pipi kanan semakin memerah dan meradang.
“Kok kukulen, tho?“tanya eyang Uti kala saya masih kuliah dulu. Kemudian eyang mendekatkan wajahnya pada area jerawat yang menyembul sedikit, seolah genit menggoda eyang. Gaya melihatnya persis seperti seorang dokter sedang mendiagnosa pasiennya. “Enggak kok eyang...ini bukan kukulen...ini cuma jerawat, thok,“ ujar saya bernada sok tahu. Hehehee, saya memang tidak tahu pasti apa arti kata kukulen. Hanya menebak saja dan meyakinkan diri sendiri bahwa arti kata kukulen sangat berbeda dengan jerawat.
Ternyata artinya sama dengan jerawat. Sontak eyang saya langsung cemberut. “Hush, kui podo wae !!!”balas eyang menanggapi cucunya yang sok pintar. Saya hanya bisa nyengir kuda dan beralibi bahwa jerawat itu ga perlu dipusingin. Nanti juga mimpes sendiri. *mimpes = kempes?*
Memandang wajah Yang Ti berumur 80-an sangat kontras dengan kondisi kulit wajah saya. Wajah Eyang mulus dan bebas jerawat....walaupun berkerut J *begitulah tipe wanita Jawa angkatan ’45, sangat merawat tubuh dan wajah dengan jejamuan*
Kembali ke laptop, yee. Setelah hampir dua bulan saya cuekin dan merasa ga perlu tritmen khusus mengenyahkan berbukit-bukit jerawat, lha kok kukulannya tambah banyak?? Semakin berbukit dan meradang, semakin banyak teman sekantor mengomentarinya. “Aduh Ri, itu jerawatnya. Gemes pingin mletusin,“ungkap Wini. Tak hanya Wini, teman lainnya juga bernada komentar yang sama.
Wah, sekarang ga bisa lagi ga perduli, nih. Bukitan jerawat mulai terasa pedih dan gatal. Kemudian saya putuskan memeriksakan ke dokter kulit di RSPAD Gatot Subroto. Berdasarkan referensi sepupu tercinta yang pernah panen jerawat seperti saya, selain karena dokter Nora ahli dibidang Kulit dan Kelamin, dokter berjilbab itu funky. “Iya, tuh mbak. Dulu waktu aku diperiksa, dokter Nora sambil nyetel lagu R n B,“ celoteh Dian sang sepupu.
Sesampainya di ruang praktek, dokter Nora menjelaskan tujuh faktor penyebab jerawat. Maklumlah karena memory card otak saya hanya 128 MB, maka saya hanya mengingat beberapa diantaranya.
Ada faktor genetik dari keluarga.
Makanan berlemak
kelelahan
Banyak pikiran
Menggunakan pembersih mengandung alkohol
ketidakcocokan kosmetik
eng..ing..eng...maab..lupa.
Dokter Nora tidak langsung mengemukakan penyebab jerawat saya itu. Tapi dengan penjabaran penyebab jerawat, saya menjadi paham dan langsung tahu. Penyebab pertama karena kesalahan kometik. Penyebab kedua yang semakin memicu tumbuhnya jerawat: saya STRESS !!! Aduh, maaf sekali lagi bila ada beberapa rumah sakit jiwa yang dengan relanya menawari saya menjadi penghuni baru. Saya terpaksa menampik tawaran itu. Ada banyak hal yang dipikirkan secara dalam. Tapi saya tidak gila !!!
Walaupun saya merasa baik-baik saja dan tetap mengumbar keceriaan bersama kawan sekantor, namun durasi kerja yang lewat dari durasi jam kerja normal membuat kerja kelenjar minyak di wajah meningkat. Hampir setiap hari saya pulang lewat tengah malam. Pun ketika sudah membaringkan diri di peraduan kapuk yang rata, pikiran saya masih melayang dengan laporan dan no kontak calon narasumber.
Tak jarang walaupun saya pulang pagi…beberapa jam kemudian saya harus bersiap menuju suatu kawasan perkantoran untuk wawancara narasumber. Terlalu lelah, capek dan banyak laporan, menjadi beban hidup.
Tak hanya saya saja yang bermasalah dengan jerawat. Salah seorang teman saya dikantor juga mengalami hal yang sama. Dia mengaku tidak merasa stress. Saban hari selalu ceria dan berceloteh riang. Namun setelah berkonsultasi dengan dokter kulit, sang teman didiagnosis menderita stres. “Saya stres, dokter? Kayaknya ga ada yang saya pikirkan hingga membuat saya stres seperti perkiraan dokter,“ ungkap teman yang agak keheranan dengan temuan itu. Kemudian sang dokter membeberkan fakta-fakta. Dokter itu mengungkapkan bahwa bisa saja dialam bawah sadar manusia memikirkan suatu hal dengan dalam. Pemikiran seperti itu akan diterjemahkan oleh kulit sebagai suatu ketidakseimbangan hormon dan metabolisme. Maka timbulah si bukit mlendung-mlendung itu.
Yah, sudahlah. Setelah saya berhasil mendapatkan acne gel, acne cream, sunblock, dan obat cuci muka yang berlabel-for all type skin, serta pil yang diminum sehari sekali, jerawat berangsur mengempis. Bukit yang memerah itu kini sudah akan meratakan diri dengan kulit wajah sekitarnya.
Seumur hidup saya, inilah pertama kalinya saya membeli obat muka yang bertajuk : “ngerawat banget dan ladies banget”. Juga inilah pertama kalinya saya mengeluarkan budget yang tidak sedikit hanya untuk kulit wajah.
“Jangan dipencet atau diraba jerawat menggunakan tangan ya, Ri,” ungkap dokter Nora sebelum kami berpisah.
Perkenalkan nama saya Riri atau teman sepermainan sering memanggil saya dengan inisial RI2 (er -i- dua). Bagaimana angkutan armada Bapak selama bulan lebaran kemarin? Tentunya baik-baik saja..atau mungkin saja semakin berkembang, ya Pak.
Saya sudah kangen sekali dengan Bapak dan ingin bercerita banyaakkk deh. Pastinya Bapak ingin tahu cerita perjalanan saya ketika mudik lebaran kemarin, ya Pak? Seru banget. Mungkin pengalaman seperti itu akan saya patri lekat dalam ingatan.
Di pagi yang cerah, tanggal 11 Oktober, bagi saya itu adalah saat yang menggembirakan sekaligus melelahkan. Tentu saja melelahkan karena pada malam sebelumnya saya masih ditimbuni banyak TOR dan deadline laporan. Maklumlah, Pak, saya hanya seorang kuli bukan wirausaha seperti Bapak.
Saya, Wini dan Winda memutuskan naik taxi untuk melewati Slipi dan akhirnya sampai menuju ke seberang RS. Harapan KIta. Kami menyadari bahwa angkutan lebaran yang membludak membuat kami harus siap-siap berdiri selama 2 jam sampai Cilegon. Empet-empetan, desek-desekan, membaui keringat sesama pemudik..walhasil itulah yang ada dalam otak kami sebelum naik bus.
Singkat cerita, setelah menunggu selama kurang lebih dua jam dan harus menggotong satu tas besar berisi pakaian dan empat minyak goreng plus satu kantong kresek berisi bahan pangan bonus dari kantor, berbagai merek bis menghampiri. Dengan susah payah kami menggeretnya dari satu titik penantian bus ke pojokan yang lebih dekat dengan berhentinya bus yang semula melewati jalur tol dalam kota.

Penggiringan kami meleset. Semua bus penuh..nuh..nuh. Kami-pun berkejaran ke sisi kiri sambil tergopoh-gopoh sesekali menyeret "barang dagangan" kami ituh. Saya tak menyangka juga akhirnya ikut mengalami hiruk pikuk dan berdesak-desakan seperti yang tersorot dalam berita televisi.
Tuhan Maha Pemurah, ya Pak. Akhirnya kami bisa juga berkesempatan menjejakkan kaki ke dalam bus Arimbi. Kami berharap dapat segera berlabuh dan menghamburkan pelukan kangen pada Bapak-Ibu di kampong.
Terimakasih sudah menjadkan Arimbi sebagai armada yang membawa kami. Didalam bis saya berkenalan dengan seorang gadis, teman satu SMU-nya Wini di Serang, Lely namanya. Lely dan saya akhirnya ngobrol ngalor-ngidul dengan asyiknya. Kami merajut kembali kenangan lama masa SMU. Ternyata Lely banyak mengenal teman SD saya dulu.
"Gimana kabarnya si A? Hehehehe, iya tuh dia play boy kelas kambing banget waktu SD. Oh, iya dia itu emang punya pesona. Tapi menurut aku, dia cakep banget lhoo. Appa, menurutmu dia ngga cakep? Ehmm, iya juga sihh..tapi dia aktif Pramuka lo waktu SD dulu,"......Whatttts maksud elo????
Begitulah Pak, obrolan yang ga penting dan bener-bener hanya ingin membuang jenuh dan meluruhkan penat didalam Arimbi yang tumpek blek berisi orang bermuka masai dan kelelahan.
Obrolan kami yang ga mutu itu mampu membuang rasa sebal duduk persis di lantai yang berundak didepan pintu bus. Tepat sejajar dengan kepala saya, disitu duduklah seorang perempuan yang hampir tertimbuni dengan banyak barang oleh-oleh mudik 1428 H. Tubuh yang mungil itu semakin ciut saja terhimpit barang bawaan.
Jes..gejes..gejes...jesssssss. Para pemudik yang wajahnya pucat seperti kekurangan oksigen itu mendesah gelisah. Mereka panik. Arimbi tercinta kita mengambl langkah taktis menepi ke kiri. Sopir dengan sigap turun hendak memeriksa ban. Penumpang Arimbi yang berjumlah dua kali lipat melebihi kapasitas tempat duduk semakin panik.

Dalam hati....saya berharap tidak mati ditempat yang sangat tidak nyaman hanya gara-gara hal klise....kekurangan oksigen. Bagi kami adalah suatu hal yang konyol sekali bila kami meninggal sebelum bisa mencecap Idul Fitri hanya gara-gara pelayanan publik yang sangat tidak nyaman. Yahhh, seharusnya uang bus yang sudah terkena penambahan tuslah sebanyak Rp.4 Ribu tidak sia-sia. Secara menggenaskan kami terlantar ditepi jalan tol !!
Kernet bus yang kami tumpangi, otaknya ternyata masih jalan juga. Kemudian dibukanya-lah pintu bus. Saat itu jam 11.30. Udara yang panas langsung saling beradu kejar menyusup dalam hidung saya. Tampaknya hanya saya dan penumpang yang berada paling dekat dengan pintu saja yang bisa agak sedikit lega bisa melepaskan cekikan kekurangan udara. Penumpang lainnya yang semakin berjejal di dalam bis belum tentu merasakan itu. Jendela yang dibuka di kana-kiri tidak cukup menyuplai udara bagi puluhan lubang hidung yang sedang bernafsu menghirup dalam-dalam.

Panas, kesal, dan bete abis karena akhirnya harus terlunta ditengah jalan tol tanpa ada solusi taktis, memengaruhi mood saya. Ban bus pecah dan memerlukan peralatan tambahan. Malangnya, mereka tidak membawa peralatan lengkap. "Ya sudah, penumpang harap mencari bis Arimbi yang lewat,"begitu perintah sang kernet.


"barang dagangan" kami ke sana dan kemari. Hilir mudik kami setengah berlari mengacungkan tangan tanda memanggil...eeeh tak digubris karena mereka sudah tak punya kapasitas tampungan. Arimbi lainnya yang jalannya pelan dan terkesan enggan jalan karena terlalu penuh penumpang, menampik kami.
Tapi, akhirnya Si Pemilik Hidup memang selalu mengayomi umatnya yang beriman. hallah.
Tapi ada hal lucu lainnya. Biasanya bus yang saya naiki, setelah dari Serang akan mampir ke Cilegon. Tappppi, ternyata bus tersebut langsung melesat ke arah Merak... wekkksss, jadi dari Merak saya harus kembali lewat jalan umum ke Cilegon? Heheheh, ya begitulah... tak apa. ngga jauh kok. Naik angkot hanya 20 menit.
Saya pesan ya, pada Bapak Arimbi...tulllllllllunnng dong diperbaiki... Mengenai penuhnya penumpang dikala lebaran, itu saya bisa pahami...tapi menelantarkan kami yang sudah membayar tuslah dijalan tol dan tidak sigap mencarikan bus cadangan???? Maaf, sampai pada titik itu saya belum dapat menoleransinya.
Terimakasih.
Salam,
Si gadis pemudik JKT-Merak
~Rie~






Teparr...lunglaii, nguantukk. Semoga bisa bersama lagi tahun mendatang, ya





Miss me, yaaa...Indy &KE
*Jelangkung...jelangkung disini ada pesta..Datang tak dijemput..pulang tak diantar*
Aduh amit..amit jabang bayi deh kalau disuruh nonton Jelangkung 3. Maturnuwun sanget-lah bila ada teman-taman yang mau menraktir saya menonton film semacam itu. Tapi dengan sangat senang hati, saya menolaknya. Jika ada yang rela mengeluarkan koceknya seharga Rp.80 ribu untuk nonton Jelangkung di Satin Room, Blitz Megaplex-pun, saya dengan sangat legowo menampik tawaran itu. Maklum urat takut saya sangat kencang membelit seluruh sisi otak.
Saya lebih memilih tidak ditraktir ketimbang harus merasakan efek sepulang nonton dari bioskop yang gelap itu *semua bioskop pada dasarnya emang gelap, hu.hu.hu*. Film bergenre horor bisa membuat saya harus menatap dan celingukan dengan takutnya ke tempat-tempat gelap. Bila akan memasuki ruangan gelap, saya pasti maju mundur, masuk ngga..masuk ngga..masuk...ngga!!!...
Salah satu teman saya pernah menawari saya untuk nonton Hantu Jeruk Purut. Film yang beredar setahun lalu itu langsung membuat saya cukup geli. "Apaan tuh, Mas, Hantu Jeruk Purut? Lucu banget namanya" sontak saya langsung tertawa. Ditengah kegelian saya, sebenarnya tersimpan rasa takut luar biasa. Apalagi kalau ternyata saya jadi juga menonton, bisa dijamin ketika menonton saya langsung menutup wajah dengan sepuluh jari. dan kedua lutut langsung saya angkat dan tekuk menutupi wajah. *maab, rada norak*
Kalau saya langsung menganggukan kepala tanda setuju menonton Hantu Jeruk Purut, teman saya dengan senang hati membelikan tiket untuk saya. Namun lagi..lagi saya menolaknya.
Tahun 2002, saya pernah mengantri bersama dua orang teman untuk menonton film Jailangkung di Bandung Indah Plaza (BIP). Kebetulan saat itu saya mendapatkan tempat duduk di barisan paling pojok agak belakang. Kebayang, kan, gimana rasa dingin merinding menjalari tubuh ketika ada adegan pemain utama membuka lemari kaca di kamar mandi dan ternyata terlihat ada sundel bolong tercermin disana???? Aduhhh, setelah nonton Jailangkung 1...agak takut juga membuka lemari kaca, langsung deh terbayang adegan itu. *hiiiiiii*
Dua malam lalu seusai wawancara di Setiabudi Building, saya iseng menyambangi 21 Cineplex di lantai tiga. Merasa waktu yang mepet untuk segera kembali ke kos, maka rencana up-date film benar-benar sekadar untuk iseng saja. Ada seorang mas-mas yang memberikan selebaran bertuliskan: Jelangkung 3. WOWWWW!!! "Waduh, mas, justru saya paling ngeri nonton film horor kayak gini," celetuk saya sembari nyengir.
Sampai keesokan paginya rasa takut belum membelit saya. Pada pertengahan malam senin-tadi malam- iseng-isenglah membuka lembar demi lembar semacam booklet itu. Ternyata boklet itu mah bukan cerita adegan yang ada didalam film itu..tapi lebih pada fakta sejarah asal usul permainan Jelangkung.
"Jelangkung bisa dimainkan bersama-sama atau bahkan sendiri. Tidak disarankan untuk mencoba permainan ini tanpa didampingi oleh "orang pintar"."
Selain itu, juga ada petunjuk permainan Jelangkung. Pertama, siapkan selembar kain putih. Kedua siapkan boneka-bonekaan dari kayu atau bisa juga jangka. Ketiga....addug, maab saya ga bisa meneruskan lagi.... Terlalu seram. Seriously, it's sound real as i've read in many of books! Gimana gue kagak kederrr. Langsung saja saya tutup booklet berwarna dasar putih bergambar depan anak kecil dengan tatapan kosong dan lunglai beserta bercikan darah disekitarnya.
Meminta saya sekali lagi menonton film produksi Rexinema itu? No thanks.
Lebih baik tawari saya menonton film Opera Jawa yang belum sempat saya tonton. Kini saya sudah tidak bisa lagi menontonnya di bioskop konvensional. Blitz Megaplex sudah mengakhiri pemutaran film itu sejak dua minggu lalu. Malangnya saya.
Silahkan tawari saya film humor, romance, sejarah...uggghhh, kalau ga ada deadline pasti saya dengan senang hati menerimanya. Siapa yang mau menawari saya? Ayo, kita nonton bareng....
Bapak, Babeh, Ayah, Daddy, Happy B'Day ya....
Wah sebentar lagi 60 tahun. Emang sih, masih 3 tahun lagi ;)
Ketika menulis surat ini, gadis kecilmu ini sedang membayangkan lagi apa Bapak di rumah. apa Bapak lagi berkolong di bawah mobil berkalang debu dengan badan dan wajah tercoreng-moreng oli? apa Bapak mungkin juga sedang bercuap-cuap di depan mike sambil berceloteh : "break 123, apakah bisa diterima? over," atau jangan-jangan Bapak sedang asik di dapur mencincang, menumbuk, menggoreng, sreng...sreng masakan spesial keluarga kita. Ya, kan Bapak?
Sudah dua tahun ini Bapak melalui masa pensiun. Ehm, menjemukan ya? melelahkan, ya, tanpa melakukan kegiatan keluar rumah setiap hari lagi? bangun pagi, membaca koran, sarapan dan segala aktivitas dilakukan tanpa ketiga anakmu yang serba bandel ituh. Tapi kan Babeh bisa tambah mesraaa sama Ibu....uhuuyy....udah ga ada yang ganggu en ngerecokin lagi-kann?
Sudahlah, Pak. Jangan terlalu memikirkan anak-anakmu yang sedang merantau di kota lain. Kami semua aman. Just pray for us, Dad.
Jangan terlalu mengkhawatirkan Yuda. Dia sudah besar, Beh. Dunia mahasiswa lambat laun bisa membuatnya tumbuh dewasa. Yuda mulai membuktikan itu. Dia tak lagi sebagai anak kecil yang dulu setiap sore selalu membawa boneka panda cokelat-nya berjalan-jalan disepanjang jembatan merah di kompleks. He's still our Yuda and he knows better than us what he wants to be. Just give him support and courage his dream. Mimpinya menjadi pemusik dan mungkin juga ahli hukum yang vote to the poor, bisa menjadi kenyataan.
Kalau Babeh mau bertanam bunga, boleh saja. Kalau Bapak senang mengatur tanaman pot supaya rapi berjajar di kebun kecil kita, bagus banget. Nanti ketika Aku pulang kampong, Aku ingin melihat taman kecil kita tertata apik dengan rerimbunan bebungaan. Maklumlah, Beh, putri semata wayang-mu ini termasuk tipe gadis pemalas. Kurang apik merawat tanaman, he.he.he.hehe.
Kalau Bapak mau mengeluarkan uang untuk membeli segala jenis tanaman, boleh saja. Ssst, tapi sisakan sedikit keping untuk peri kecil-mu ini ya, behh..Nanti kita belanja-belanji sepatu sandal, baju, makan-makan, en so on, en so on...ugh, tapi jangan sampai ketahuan Ibu. bisa marah enyak kita ituh.
Beh, mbok dikurangi merokoknya. Inget rokok, biasanya Riri pasti ingat Babeh. Babeh kan kalau merokok kayak kepulan asap kereta...wush..wush..wush..tiga bungkus sehari dijabanin deh. Tapi Riri juga sedih waktu mendengar Bapak terbatuk, uhuk.uhuk..bathukk. Please, Stop smoking, Daddy !! Kami semua ga mau mendengar suara tenggorokan parau dan membaui asap rokok yang bisa bikin Bapak sakit.
Ingat kopi juga bikin Riri ingat Bapak. Setiap kita pergi ke luar kota, pasti Bapak meminta Riri membuatkan kopi untuk disimpan dalam tromel panjang. Kopi yang tidak terlalu manis itu adalah obat mujarab penghilang kantuk Bapak ketika sedang menyetir lebih dari empat jam.
Bapak, masihkan ingat dengan kenakalan dan pemberontakanku ketika usia belasan tahun? Mungkin Bapak akan balik bertanya, "yang mana,?" Riri tahu pasti, pertanyaan itu bukan karena Bapak lupa pada tingkah laku peri kecilmu ini. Justru Babeh bertanya untuk menarik suatu peristiwa penting yang sangat menggambarkan pemberontakan Riri dulu. Semuanya penuh pemberontakan, ya Beh ;) he.he.he. Jangan sedih gitu dong, Beh. Kelakuanku dulu hanya untuk menunjukkan jati diri seorang remaja ingusan seperti-ku, thoh?
Ingat, ga Beh, waktu kelas 4 SD, Riri nekat menyusup naik ke atas Bis yang menuju Bandung, tanpa membawa pakaian sehelai-pun? Waktu itu kita semua-kan sedang menghantarkan Tante Mar naik bis pulang ke Bandung. Saat masa liburan selama 1 bulan itu, Riri sangat jemu berada di rumah. Tapi Ibu selalu menggeleng kepala setiap Riri meminta berlibur ke Bandung.
Niat itu kesampaian. Berlibur sebulan yang tenang di rumah eyang yang penyabar. Tapi jangan dikira Riri juga ikut tenang sepenuhnya, lo Beh. Ketika berada di atas bis, dan menengokkan kepala ke jalan, Riri menyesal. Riri melihat Ibu yang sibuk mencari dimana Riri. Kalau ga salah ingat, Ibu juga sempat menarik pergelangan tangan Riri supaya ga ikutan masuk bersama Tante.
Lalu, saat perayaan perpisahan kelas 2 SMU, Riri juga nekat menginap bersama teman seisi kelas menginap di suatu Villa di Anyer. Waktu itu, Bapak dan Ibu sangat khawatir akan pergaulan bebas yang sempat jadi tema berita dimana-mana. YAY.. He..he. sudahlah, Beh. Thoh, aku selamat. Semua teman kelasku baik dan mau saling menjaga.
Segala kelakuanku diusia belasan tahun itu, mengesalkan ya?? Tapi, tetep ngangenin, kaaannnnn? *ihik*
Jangan terlalu banyak berpikir yang berat-berat, Beh. Nikmatin saja hidup dengan jalan-jalan pagi, bercocok tanam, dan memasak bersama Ibu. Nyak kita ituh juga memerlukan dukungan sepulang dari kantornya. Jalanan yang semrawut, bisa membuat Nyak mengerucutkan wajahnya. Tuh, kan perut Babeh udah mulai membuncit. Ayo SEMANGAT jalan-jalan pagi berdua Ibu, Beh.
Jangan terlalu lelah juga, Beh. Simpan saja tenaga untuk persiapan menyetir belasan jam menuju Jogja pada lebaran nanti. Gadis kecilmu yang sekarang tak lagi kecil tubuhnya, akan duduk disampingmu dan berjaga dari kantuk. Tennnang, aku kan ikut memandumu menyusuri jalan menuju kota kelahiran-mu Beh, Yogyakarta.
Once more, your Dady's Girl wanna say:
Happy Birth Day
May all your wishes come true
You teach me all things to me, Dad.
Your integrity, dignity to success, and faithfulness is one of the reason for me to be a journalist.
A Big hug for you
*kis..kis*
| Next Page |
