Sunday, September 23, 2007
"
Harapan Rembulan
"

Sudah lihat dan menengadahkan wajah ke langit?
Hey, lihat disana bulan hampir bulat sempurna !
Kira-kira berapa ukurannya?
Mungkin separuh dan mungkin juga tiga perempat.
Sayang, bulan tidak lagi sama bentuknya seperti bulan lalu.
Saat itu bulan bulat penuh sempurna.
Mengingatnya seperti mengingatmu.
Bulan itu abadi.
Cerah menyinari kegelapan yang ada dibumi.
Iya, seperti kamu.
Betul, tak salah lagi, seperti kamu yang juga menyinari  kelopak hatiku.
Semakin lama merekah indah.
Hadirmu disisiku, menyingkirkan galau hati.
Hadirmu dibenakku, membuang pikiran sendiri.
Hadirmu selalu menenangkan.
Tapi kita tidak identik seperti bulan yang bergantung setiap malam membayangi genteng rumah.
Kita tidak abadi, Sayang.
Besok, lusa, bulan dan tahun mendatang, tak selamanya kita bersama.
Tapi, di ujung lorong kegelapan selalu ada titik terang jalan keluar.
Pun, kita tidak selamanya saling terpisah, bukan?
Semoga rindu itu ada di hatimu.
Semoga dalam guratan lelah wajahmu, tersimpan harapan itu.
Kan kutelusuri urat wajahmu dengan jemariku.
Wajah yang menyimpan rasa lelah bercampur ketegaran, keberanian dan keikhlasan hidup.

Posted at 11:56 am by All_Riri
Make a comment Â

"
Ikhlaskan saja !
"

Berhati ikhlas itu gampang-gampang sulit.  Terkadang apa yang diucapkan tidak senada, seirama, seharmoni dengan apa yang tersembunyi di hati.

Buat saya sendiri, mengucapkan sesuatu dengan ikhlas tentunya penuh pergolakkkan. Bener ga sih saya benar-benar ikhlas? Betul nih, ketika saya bilang ikhlas...itu betul-betul datang dari suara hati yang tulus tanpa bernada tendensius ? I do.  iya, I do. Ehm, tapi saya masih belajar mengucapkan I do, semurni dan setulus hati saya. Ada pelajaran dan perjuangan tertatih-tatih mengucapkan, meloloskan sesuatu dan memasrahkannya dalam jiwa.

Sekali lagi itu tidak mudah. Waktu itu ketika saya mengucapkan bahwa saya mengikhlaskan sesuatu atau bahkan seseorang, ternyata ikhlas saya itu belum sempurna. Ternyata setelah itu masih saja ada rasa ingin memiliki sesuatu atau bahkan seseorang itu lagi.


Now I'm the winner. Saya berhasil mengalahkan sejumput rasa ketidakrelaan itu. Pola pikir kita adalah pusat kendali segala tindakan. Pikiran saya di sisi kiri masih menghendaki sesuatu atau bahkan seseorang itu. Tapi sisi pikiran kanan saya mencoba membantu saya bangkit sembari protes: "Sudahlah, Ri. Kamu akan mendapatkan sesuatu atau bahkan seseorang yang jauh lebih baik. Semua pasti ada jalannya. Please, relakan saja !"
 
Senyum dibibir saya kini makin tersungging ketika akhirnya saya tahu bahwa sesuatu atau bahkan seseorang yang pernah dekat dengan kehidupan saya mendapatkan pengganti yang tepat. Ini cuma masalah waktu saja. Kita-kan tidak tahu kapan dan dengan cara apa kita akan mendapatkan sesuatu atau bahkan mengenal seseorang. Itulah yang sering disebut sebagai dunia metafisika. Tanpa kita sadari, ternyata kita bisa bertemu dan merasa klop dengan orang-orang yang mempunyai "gelombang frekuensi" yang senada dengan kita. Halllahh, kok teori, he.he.he. Makanya jangan lewatkan Novel Manuscript Celestine. Wink

Tapi saya sudah lega. Kini sesuatu itu sudah berada di tangan yang tepat yang bisa merawatnya secara tekun dan telaten. Kini seseorang itu sudah mempunyai sandaran jiwa lainnya yang siap melarung waktu  bersama memberikan segenap jiwa raganya. Rasa bahagia turut menyeruak dan menentramkan lubuk hati saya.

Terimakasih atas kesempatan pernah memiliki sesuatu atau bahkan mengenal seseorang itu.

Posted at 02:27 am by All_Riri
Make a comment Â

Monday, September 17, 2007
"
17 September 1928
"




Bandung, 17 September 1928


Eyang, saat itu seperti apa ya suasana rumah kita di Karapitan? Masih rumah panggung-kah?
Masih berupa jalan tanah-kah?
Masih dengan pemandangan depan rumah berupa sederetan pemakaman tentara Belanda-kah?
Masih dengan mbah Uyut yang sering pergi ke berbagai kota menjalankan tugasnya sebagai Masinis-kah?

Waktu eyang bayi, apakah eyang rewel dan cerewet seperti aku-kah?
Waktu eyang lapar, apakah salah satu menu makanannya harus berupa sayuran-kah?
Waktu eyang balita, apakah Eyang suka bertanya ini-itu yang membuat Mbah Uyut gelagapan?
Waktu Eyang balita, apakah eyang selalu ingin tahu segalanya, dan berusaha sekeras mungkin ketika belum mendapatkannya?

September 2007,

Aku tahu sekarang, Eyang...

Dulu Eyang pernah bercerita menjelang aku tidur bahwa rumah kita, rumah yang sekarang Eyang tinggali, dulunya masih berupa rumah panggung. "Kenapa Eyang," tanya-ku waktu itu. Lalu Eyang menjawab rumah panggung itu sangat penting artinya bagi keluarga Eyang. "Waktu itu masih banyak binatang liar, Ri,"ujar Eyang sembari mengelus rambut hitam-ku.

Eyang juga menambahkan bahwa Eyang kecil paling suka memakan nasi di....Cobek??? "Dulu Mbah Uyut sering menyebut Eyang sebagai Cah Nggeragas," tutur Eyang sembari sesekali tergelak bila mengingat itu.

Sewaktu masuk sekolah dasar, sebetulnya umur Eyang belum enam tahun. Tapi berhubung Eyang berhasrat besar bersekolah, maka keluarga sepakat memajukan tahun kelahiran Eyang menjadi tahun 1925.

Dilain waktu-biasanya sembari makan malam di meja makan- Eyang juga berkisah tentang perjalanan jauhnya pergi kesekolah. "Waktu itu Eyang harus naik kereta," ungkap Eyang. Perjalanan memakan waktu tiga sampai empat jam. Tapi aku lupa di Kota mana Eyang dan adik-adiknya bersekolah.

Tapi yang Aku tahu pasti: Eyang bukanlah seperti seorang Riri yang kalau ada hal lucu, maka spontan langsung tertawa ngakak. Eyang juga bukan tipe perempuan yang suka menawar harga belanja sangat murah dan bikin tukang sayur keki berat. Bukan..bukan..Eyang Bandung bukanlah tipikal seperti itu.  Tentunya Eyang juga bukan jenis orang berkarakter cerewet, selalu ingin mengetahui segala hal,,,apalagi urusan yang tidak tersangkut langsung dengannya.

Kalau Eyang marah atau tidak berkenan atas suatu hal, Eyang hanya diam, mukanya memerah karena memendam perasaannya.
Seperti apapun sifat Eyang, kami sekeluarga sangat mencintainya.

17 September 1928-17 September 2007

Happy Birth Day ya, Eyang....
Semoga Eyang tetap dilimpahi kesehatan dan kebahagiaan.
Umur ke-79 ini semoga bisa menjadi momen bagi Eyang untuk lebih merasakan kelengkapan hidup.

PS: Satu permintaan khusus dariku, Eyang.. mudah-mudahan Eyang bisa menghadiri pernikahan para cucu Eyang kelak. Walaupun entah itu kapan....




 

Posted at 01:30 am by All_Riri
Make a comment Â

Friday, September 14, 2007
"
Ubi Rebus
"

Dud..du..du

Ta..ta.ta

Hore...saya akan merebus ubi merah yang saya beli kemarin siang pada mamang gerobak sayur di depan kantor.

Mau?? tenang...jumlahnya mencukupi untuk,.. ehmm, kira-kira empat orang dengan lahapnya..setidaknya seplastik ubi merah 1 Kg, cukup untuk berbuka puasa.

"Boleh de Ri, gue minta," ucap tetangga kubikel saya, Eddy ndut :)

Berhubung lumayan banyak urusan redaksional yang musti diurus, jadinya, ya baru bisa 15 menit sebelum berbuka, itu ubi saya rebus.

Di dapur kantor semua pada hiruk pikuk menyiapkan minuman pembuka. Terutama salah satu OB yang selain sibuk menuangkan air teh panas ke dalam gelas bening, dia juga sibuk menyomel dan berceloteh ga jelas. "Wah, harusnya gue ga kerja sendiri. Masak pada ga ngerti sih, ada dua rapat, trus ini lagi harus nyediain teh berbuka," ucap kang OB bersungut-sungut.

Saya sih cuek aja dengan gerutunya. Tetap saja kedua tangan ini ikut sibuk mencuci ubi merah yang terbaluti tanah. Pada waktunya azan berkumandang, saya tetap saja belum bisa menyajikan ubi merah.  Perlu 30 menit untuk ubi sampai pada keadaan matang betul.

Nah...lewat masa itu, saya bisa menyajikan untuk teman-teman dekat didaerah kubikel saya. "Hah, enam rebu harganya...Itupun udah kamu tawar Ri????"Jeung Yuyun si Ibu RT alias Rumahnya Tetangge, kaget..

Jeng Yuyun bilang, di rumahnya ubi merah yang lebih manis dan lebih besar ukurannya hanya 4 Rebu/kg. "Waduh, elo diboongin Ri sama mamang sayur gerobak," Eddy ikut ngomporin.

Ya, sutralah. Mau gimana lagiii. Lebih baik dimakan, kenyang, dan berucap Alhamdullilah...mimik saya sebenarnya sempat sedikiiiit mengerucut menyadari bahwa harga itu dibench mark  sama si mamang. "Ga papa-lah Ri...hehehehe, itung-itung amal, kan" ucap Eddy sembari nyomot ubi. Ucapannya itu membuat hati saya menjadi ikhlas sepenuhnya.

Tapi makan ubi berarti harus waspada. Apaan???
Iya, waspada bertebaran kentut dimana-mana..hihihihi.
"Ubi itu kan mengandung gas, Rii,"ucap Wini yang emoh makan ubi.

Walopun bisa menimbulkan bau yang bikin mabok...mari sikat ubi rebus.....SIKAT!!!  LIBAS!!! Jangan tersisa!!!

Posted at 10:30 am by All_Riri
Make a comment Â

"
Terimakasih Kawan Baru
"

Terimakasih, Gusti Allah...
Kali ini saya diberikan kesempatan lagi untuk belajar mengetahui kekurangan, kealpaan, keteledoran, serta kemalasan saya sendiri.

Terimakasih juga telah mewartakan itu lewat mulut seorang kawan baru.
Dia, yang baru saya kenal lewat telepon, betapa hebatnya langsung bisa menganalisis potensi hidup yang kini saya jalani. Jenius...EUREKA.

Saya tidak tahu seperti apa perawakannya.
Nada omongnya tinggi, tutur katanya selalu ketus, digasss, weng-weng seperti deruman motor balap jalanan.. sesekali dia berdecittttt..cit..cit, intonasi yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya langsung mencap dia sebagai manusia angkuh.

Mohon maaf ya kawan baru. Pencapan sebagai manusia sombong itu tentunya bukan dari saya. Kawan lama kamu yang membisikan pada saya. Satu..dua..tiga..empat..lima..tidak hanya satu kawan lama-mu yang bilang begitu, Bung!

Semua kawan lama-mu membela saya.  Tapi tenang aja, saya tidak menaruh dendam padamu, kok ! Justru saya merasa ada "tangan" yang menyentuh dan menggetarkan hati saya..ada jemari yang menyentil telinga untuk mengingatkan saya akan pengetahuan yang terbatas itu.

Terimakasih, ya kawan baru. Terimakasih untuk kesediaanmu menjadi mesias, jubir Allah pada sore tadi.  Maturnuwun sekali lagi sudah menambah dinamisme hari puasa kedua di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Posted at 09:51 am by All_Riri
Make a comment Â

Wednesday, August 22, 2007
"
Hujan Turun Lagi
"

Hujan turun lagi.
Ini keempat kalinya dalam seminggu terakhir, awan merintikkan keringatnya ke bumi.

Hujan selalu indah. Tak ada keresahan buatku ketika hujan tiba. Tetesan air yang membuat genteng rumahku berderak, semakin membangkitkan memori indah tentang keluarga.

Hujan identik dengan dingin,
dengan selimut berlorek hitam putih,
dengan tatapan mata dibalik kaca ruang tamu rumah di Cilegon sambil bertanya : "Gimana ya aku ke sekolah tapi biar ga kehujanan?" batin saya waktu kecil dulu. Gerimis dan dinginnya hujan, juga paling cocok bila diiringi seruputan indomie rebus...hmmm, Kari Ayam, uennnakk. Slurrpp.

Hujan juga melayangkan ingatan-ku dengan hamparan tanah merah di lapangan depan rumah. Tapi, kami hanya bisa menikmati tanah merah itu sampai pada pertengahan 90'an. Setiap aku dan Yuda kecil mencoba menjejakkan alas kaki,pastilah dalam tiga langkah saja, sandal sudah terasa berat. Tanah merah menempel lekat.

Tanah merah alias lempung itu, berganti dengan tembok-tembok putih kusam yang berdiri kaku, tegap. Saksi bisu. Ratusan perumahan dibangun. "Aku ga bisa lagi main lempung-lempungan dengan tanah merah, Ibu," ujar-ku pada Ibu dimasa silam ketika kami berjejeran memandang jauh kearah depan rumah yang mengalami rekonstruksi.


Hujan juga mengingatkanku pada romantisme kehidupan kecil ketika di Bandung. uuugh, hujan, dingin, krukupan selimut dikasurnya eyang dan tidur sampai Maghrib tiba. Hujan paling enak dinikmati bersama ditengah keluarga.

Hujan selalu membuatku terkenang bahagia tapi juga sekaligus menjadi saat yang muram ketika menyadari aku jauh dari mereka semua. 

Aku juga pernah merasa ketakutan bila hujan tiba. Awan hitam menggulung, got penuh dengan air mengalir deras untuk dialiri menuju sungai tempat si Kerbau mandi. Disaat itulah bila petir menggelegar, suatu hal yang sangat mungkin terjadi adalah padamnya listrik. Tanpa penerangan, membuat dingin romantisme hujan berubah menjadi ketakutan tanpa cahaya penunjuk jalan. "Ri, tolong ambilkan Ibu lilin di laci coklat. Jangan lupa koreknya sekalian,"pinta Ibu.

Ah, sudahlah, jangan terlalu mengingat itu sehingga membuat kita diam ditempat terpaku pada memori masa silam. Saat ini, aku hanya mampu menghabiskan hujan di malam yang dingin bersama bunyi tuts keyboards yang berkletukan. Kembali pada rutinitas  takdir  jurnalis, menulis, mengetik, dan terus mengetik. 

Posted at 05:38 am by All_Riri
Make a comment Â

"
Sabar
"

Sabar....
    Turunkan perlahan emosimu....

Sudah kodratnya menjadi perempuan
dalam waktu tertentu, harus sekuat tenaga meredam emosi dan perasaan bergejolak...

Rasanya ingin marah
Rasanya ingin meledakkan semburan api panas menggunakan roket luncur
Rasanya tangan dan kaki ingin bergerak

Sabar...
Sabar, Riii.....

Sebentar lagi, minggu akan berganti. Biasanya-kan disaat itu kadar hormon ga jelas itu turun sampai pada titik kosong. Disaat itulah semesta alam sudah dapat kembali melihat senyum optimismu.

Sabar...


Posted at 05:30 am by All_Riri
Make a comment Â

Friday, August 17, 2007
"
Ladies Room, Please!
"

Apa yang paling disukai jadi bahan potret ketika liputan? Banyak pastinya. Peristiwa liputan itu sendiri, hal-hal menarik ditempat liputan itu. Di perjalanan menuju tempat liputan, dan bahkan dalam perjalanan pulang ke kantor. Ada yang menarik? Pasti !!

Kalau Riri???

Maaf, berhubung aku jarang banget ke lapangan on the news spot, jadinya paling demen motretin kamar mandi alias toilet, alias ladies room ketika wawancara.  Tentunya kamar mandi yang saya potret adalah kamar mandi yang unik dan tentu saja mampu menciptakan pantulan gambar berbeda. Bukan apa-apa aku memotret spesialisasi ladies room yang memang sudah dirancang unik. Alat potret yang kupunya hanyalah HP Nokia seri jadul dengan kualitas gambar 1 MP. Jadi, tentu saja untuk menghasilkan gambar yang bagus diperlukan "panggung" yang sudah bagus juga.



 


Posted at 05:14 am by All_Riri
Make a comment Â

"
Buah Lontar
"

Sudah lama juga aku tidak makan buah lontar. Bentuk dagingnya yang putih, licin, dan manis, hmmm menggugah selera.  Bayangkanlah serutan daging kelapa muda alias degan. Nah, seperti itulah rasanya. Hehehe, terus terang aja nih, aku baru memakannya ketika di Jakarta, tahun ini juga. Jarang banget ada penjual bauh lontar. Buah Lontar di Jakarta juga mengambil pasokan dari Jawa Timur. Kalau tidak salah, dari Ponorogo. Bertruk-truk buah lontar dikirim ke Jakarta.

Pertama kali makan, hmmm..lidah serasa menari. Tak cukup rasanya ingin mencerecap lebih lama. Lembut..manis (orang yang makan juga sudah manisss, kok). Enggak nyangka juga ternyata ada air buah lontar. Rasa airya juga mirip sekali dengan air kelapa muda.

Untuk buah yang termasuk langka di Jakarta, harga Rp. 1000/buah (dengan berat hanya 2 gram saja), itu termasuk murah. "Ya iyalah, Ri ini lebh murah ketimbang kita nyari sampe mampus itu lontar dan ngupas sendiri," tukas Wini sambil makan buah lontar. Daging buah lontar terbilang kecil. Tapi buah secara keseluruhan termasuk kulitnya, beratnya bisa mencapai 1 Kg lebih. Menurut si tukang lontar, buah ini berkhasiat menurunkan panas dalam. 

Sepulang dari pemakaman calon mertuanya Wni, bulan Mei lalu, kami cukup surprise juga ternyata masih ada pedagang lontar gerobak melintas didekat gedung jangkung Bidakara. Awalnya kami hanya berniat makan dua buah aja. Ternyata perut kami yang kerontangan, dahaga yang kering, membuat kami menghabiskan 14 buah lontar. Itu belum lagi buah lontar yang dibungkus untuk stok di kantor. Ternyata aku masih menyimpan kenangan itu.


Sebelum dikupas, buahnya besar sekali. Wah, gimana membukanya, ya? Surprise



Setelah dikupas, beginilah bentuknya. Kecil sekali... Tapi ga rugi memakannya.



Posted at 03:36 am by All_Riri
Make a comment Â

Wednesday, August 15, 2007
"
Oleh-oleh Menonton Miss-Miss-an
"

Ga rugi juga menonton acara yang sebenarnya aku juga kurang excited. Pemilihan Miss Indonesia, geto lohhh. Acara begituan, kan bisa menonton di TV, dan enggak terhalang juga penglihatan kita. Berhubung penugasan kantor, sutralah dilakoni wae...sapa tau bisa ngeliat yang bening-bening. Cliiink..

Tapi, lumayanlah dapet tempat duduk dideretan belakangnya pendukung calon Miss Indo asal Sulawesi Tengah. Yah,cukuplah untuk cuma bisa ngelihat wide screen aja tanpa bisa melihat adegan di panggung ketika si kandidat sedang "diplonco".


Ternyata memang benar. Aku bisa lihat yang clink-clink. Senang banget deh, bisa bertemu dengan gadis imut nan cantik berumur sekitar 4 tahun. Mungkin dia sendiri ga ngeh acara yang sedang ditonton sama ayah-Ibu-adik bayi dan seluruh keluarga Irian Barat-nya itu.  Diam-diam aku, mbak Tutut dan Wini memotret wajah polosnya.


Si Adek lagi ngelihat dagelan miss-miss-an.




hmmm. udah mulai ngantuk, nih.



Jangan takut sama kamera, ya Dek ! Wink



dan...inilah para pemotret itu...Maaf, sodarah-sodarah. Bukan bermaksud narsis. Shades




~ Bila ada kawan semua yang pernah melihat atau bahkan mengenal anak lucu itu...aku dan mbak Tutut kirim salam, ya...
dan bila ada kawan semua yang pernah lihat kedua pemotret itu...silahkan hubungi 100008. Sepuluh penelpon pertama akan mendapatkan tandatangan gratissss. Dijamin halal ~!!!!

Posted at 10:26 am by All_Riri
Make a comment Â

Don't buy Vista Security
Previous Page Next Page