|
Betul juga ya, ungkapan itu. Kini saya benar-benar mengalami dan membuktikan hal itu. Hari demi hari membuat jerawat saya tumbuh subur terutama di sekitar pipi kanan. Mulanya sih saya cuek saja. Justru saya makin rajin membersihkan wajah dengan pembersih yang ternyata belakangan saya ketahui mengandung alkohol. Jerawat di pipi kanan semakin memerah dan meradang.
“Kok kukulen, tho?“tanya eyang Uti kala saya masih kuliah dulu. Kemudian eyang mendekatkan wajahnya pada area jerawat yang menyembul sedikit, seolah genit menggoda eyang. Gaya melihatnya persis seperti seorang dokter sedang mendiagnosa pasiennya. “Enggak kok eyang...ini bukan kukulen...ini cuma jerawat, thok,“ ujar saya bernada sok tahu. Hehehee, saya memang tidak tahu pasti apa arti kata kukulen. Hanya menebak saja dan meyakinkan diri sendiri bahwa arti kata kukulen sangat berbeda dengan jerawat. Ternyata artinya sama dengan jerawat. Sontak eyang saya langsung cemberut. “Hush, kui podo wae !!!”balas eyang menanggapi cucunya yang sok pintar. Saya hanya bisa nyengir kuda dan beralibi bahwa jerawat itu ga perlu dipusingin. Nanti juga mimpes sendiri. *mimpes = kempes?* Memandang wajah Yang Ti berumur 80-an sangat kontras dengan kondisi kulit wajah saya. Wajah Eyang mulus dan bebas jerawat....walaupun berkerut J *begitulah tipe wanita Jawa angkatan ’45, sangat merawat tubuh dan wajah dengan jejamuan* Kembali ke laptop, yee. Setelah hampir dua bulan saya cuekin dan merasa ga perlu tritmen khusus mengenyahkan berbukit-bukit jerawat, lha kok kukulannya tambah banyak?? Semakin berbukit dan meradang, semakin banyak teman sekantor mengomentarinya. “Aduh Ri, itu jerawatnya. Gemes pingin mletusin,“ungkap Wini. Tak hanya Wini, teman lainnya juga bernada komentar yang sama. Wah, sekarang ga bisa lagi ga perduli, nih. Bukitan jerawat mulai terasa pedih dan gatal. Kemudian saya putuskan memeriksakan ke dokter kulit di RSPAD Gatot Subroto. Berdasarkan referensi sepupu tercinta yang pernah panen jerawat seperti saya, selain karena dokter Nora ahli dibidang Kulit dan Kelamin, dokter berjilbab itu funky. “Iya, tuh mbak. Dulu waktu aku diperiksa, dokter Nora sambil nyetel lagu R n B,“ celoteh Dian sang sepupu. Sesampainya di ruang praktek, dokter Nora menjelaskan tujuh faktor penyebab jerawat. Maklumlah karena memory card otak saya hanya 128 MB, maka saya hanya mengingat beberapa diantaranya.
Dokter Nora tidak langsung mengemukakan penyebab jerawat saya itu. Tapi dengan penjabaran penyebab jerawat, saya menjadi paham dan langsung tahu. Penyebab pertama karena kesalahan kometik. Penyebab kedua yang semakin memicu tumbuhnya jerawat: saya STRESS !!! Aduh, maaf sekali lagi bila ada beberapa rumah sakit jiwa yang dengan relanya menawari saya menjadi penghuni baru. Saya terpaksa menampik tawaran itu. Ada banyak hal yang dipikirkan secara dalam. Tapi saya tidak gila !!! Walaupun saya merasa baik-baik saja dan tetap mengumbar keceriaan bersama kawan sekantor, namun durasi kerja yang lewat dari durasi jam kerja normal membuat kerja kelenjar minyak di wajah meningkat. Hampir setiap hari saya pulang lewat tengah malam. Pun ketika sudah membaringkan diri di peraduan kapuk yang rata, pikiran saya masih melayang dengan laporan dan no kontak calon narasumber. Tak jarang walaupun saya pulang pagi…beberapa jam kemudian saya harus bersiap menuju suatu kawasan perkantoran untuk wawancara narasumber. Terlalu lelah, capek dan banyak laporan, menjadi beban hidup. Tak hanya saya saja yang bermasalah dengan jerawat. Salah seorang teman saya dikantor juga mengalami hal yang sama. Dia mengaku tidak merasa stress. Saban hari selalu ceria dan berceloteh riang. Namun setelah berkonsultasi dengan dokter kulit, sang teman didiagnosis menderita stres. “Saya stres, dokter? Kayaknya ga ada yang saya pikirkan hingga membuat saya stres seperti perkiraan dokter,“ ungkap teman yang agak keheranan dengan temuan itu. Kemudian sang dokter membeberkan fakta-fakta. Dokter itu mengungkapkan bahwa bisa saja dialam bawah sadar manusia memikirkan suatu hal dengan dalam. Pemikiran seperti itu akan diterjemahkan oleh kulit sebagai suatu ketidakseimbangan hormon dan metabolisme. Maka timbulah si bukit mlendung-mlendung itu. Yah, sudahlah. Setelah saya berhasil mendapatkan acne gel, acne cream, sunblock, dan obat cuci muka yang berlabel-for all type skin, serta pil yang diminum sehari sekali, jerawat berangsur mengempis. Bukit yang memerah itu kini sudah akan meratakan diri dengan kulit wajah sekitarnya. Seumur hidup saya, inilah pertama kalinya saya membeli obat muka yang bertajuk : “ngerawat banget dan ladies banget”. Juga inilah pertama kalinya saya mengeluarkan budget yang tidak sedikit hanya untuk kulit wajah. “Jangan dipencet atau diraba jerawat menggunakan tangan ya, Ri,” ungkap dokter Nora sebelum kami berpisah.
|
| Leave a Comment: |