|
Terimakasih sudah mengajarkan pada saya tentang hidup. Sedih rasanya ketika sakit tanpa ditemani oleh Ibu dan keluarga. Saat badan yang semakin rapuh ini harus berjalan tertatih hanya untuk membeli makan siang dan malam, keluar kos, ada rasa hampa. Saat itu, saya merasa sendiri, tidak ada yang perduli. Semuanya, termasuk pengobatan-pun harus diusahakan sendiri. Kalau sudah begitu, agak menyesal juga memilih hidup kos. "Dulu waktu masih tinggal sama Eyang, pasti makanku terjamin,"batin saya sembari termangu. Diatas pembaringan saya hanya bisa terdiam sembari menahan rasa sakit. Demam tinggi dan pengecapan lidah yang pahit sangat menyiksa. Menatap tinggi langit-langit kamar kos, menarik selimut sampai batas dagu, tak dapat ditahan buliran air mata menetes. I'm alone...i'm alone, hiks..hiks. Bahkan untuk meng-SMS teman atau keluarga berat rasanya. Kasihan pikiran mereka harus terbebani bila mereka semua tahu kalau saya sedang menggigil kedinginan sementara udara sekitar saya panas terik. Pasti Ibu dan Bapak akan cukup panik ketika putrinya yang keras kepala ini terkapar diatas pembaringan kapuk yang keras. Punggung sakitnya naujubilleh. Tapi tak dinyana, rasa sakit mampu membuat saya berrefleksi. Benar ngga ya inilah jalan hidup yang akan saya tekuni sepanjang hidup saya? Tepat-kah pilihan hidup yang sudah saya tentukan? Lagi-lagi ketika memikirkan itu, buliran air mata terus menggenangi pipi. I wanna go home.....Ibuuuuuuuu. "Makanya kalau dikasih tahu orang tua, mbok ya nurut. Jangan pulang malam lagi,"ungkap Ibu sambil memijat punggung saya yang diborehi balsam. Ajaib, tidak sampai 15 menit dipijat, punggung yang sakit....howosh..howoshh..hilang !! Siapa dulu dong yang memijat *I love u mom* |
| Leave a Comment: |